Kamis, 31 Januari 2008

oliva


Jalan Oliva Dan Tentang Kematiannya

“Aku harus pulang,” katanya padaku suatu ketika. Mimik wajahnya menyiratkan ada kegundahan yang dipendam dalam-dalam.
“Ada keinginan orang tua, yang mesti kulakukan,” tambahnya pelan. Dan aku mendengarnya dengan seksama. Membaca risau itu, ia datang pelan-pelan. Tanpa mengajakku untuk memasuki dunianya.
“Jika kesempatan itu datang dua kali, sebisaku untuk kembali kesini,”
“Jangan banyak berharap untuk memilikiku, adanya aku buatmu juga bagian dari tidak adanya aku, begitu sebaliknya,” terakhir kali ia ucapkan kata-kata itu.
Hanz. Aku tak pernah mendengar panggilan itu selepas kepergiannya. Gadis itu satu-satunya orang yang memanggil nama asliku. Oliva Dewi Nirmala, nama gadis itu. Seorang gadis pendiam yang telah membawa separuh jiwaku. Kutitipkan beberapa waktu lalu, semenjak perkenalan kami di suatu pesta ulang tahun seorang sahabat. Ia hanya gadis biasa. Perbincangan-perbincangan setelahnya, membuatku tertelan keinginan untuk mengetahuinya lebih jauh.
Setiap waktu luang, kusempatkan menemui Oliva. Kesukaanya hampir sama dengan kesukaanku. Perbincangan kami juga tak jauh-jauh dari obrolan kehidupan, masalah sosial. Atau sewaktu-waktu kami bicarakan sesuatu yang kami sendiri tak pernah mengerti, jalan kematian. Keakraban itu begitu damai. Berjalan pada setapak persahabatan sederhana. Menghabiskan waktu, melupakan kesedihan demi kesedihan pada paruh-paruh malam dan akan usai jika pagi menjelang. Kuantar ia ke tempatnya. Kenyamanan itu hampir sempurna, ketenangan yang hanya bisa kunikmati jika bersamanya. Satu alasan buatku untuk menitipkan separuh jiwa ini padanya. Ia juga menitipkan separuh jiwanya padaku.
Tak ada kata-kata cinta.
“Cinta selalu berbohong dengan cara kekaguman,” kata Oliva
“Karena kekaguman hanya percaya pada penginderaan yang seharusnya tak dapat dipercaya,”
Kuanggukkan kepala, tanda kesetujuanku pada gaya berpikirnya. Gaya imanjinasi yang menembus batas dan alur kelaziman. Gadis masa kini yang tak pernah terjamah oleh trend, model rambut, mode pakaian, dan cara pikir yang begitu dungu. Semua dilepaskan oleh Oliva, segala beban dan kepenatan yang menghantui setiap manusia. Ia adalah bagian terindah yang nyaris kuraih. Dalam kedekatan ini, ia telah mengajarkan padaku banyak hal baru. Kadang kami saling berpendapat, bergantian mengungkapkan gejolak-gejolak dalam keterbatasan. Menyingkap ketabuan, di dunia yang mengekang ini.
“Jika hidup itu tanpa kematian, maka dunia ini adalah kematian, karena kematian dalam hidup ini adalah niscaya, penderitaan yang mesti dilalui setiap manusia,” katanya suatu ketika
*****

Hingga saat ini ia masih bersamaku. Tak ada kebosanan seperti ketika aku bersama teman-teman lain. Oliva pernah mengajakku. Mencari hening di suatu tempat. Perbukitan di pinggiran kota ini. setelah sepenggalah matahari naik, kami berangkat ke sana. Kami membangun kemesraan di perbukitan itu. Kecantikan dan keranuman itu serupa bunga oliva, melambatkan aliran darah dan degup jantung. Aku telah mengatakannya. Setiap kebersamaan itu telah membuat kekaguman-kekaguman ini menggumpal, mendorongku untuk lekas menyudahi kenaifan. Dan ia telah mendengarnya di perbukitan. Kata demi kata terlepas begitu saja. Kuceritakan semua, tanpa tabir. Oliva mendengarnya dengan seksama, seperti bidadari di rumpun perdu. Termangu pada ungkapan itu. Tersenyum sesekali, mengusap wajahku yang telah pasi sedari tadi. Setelahnya, hanya ada diam, beku entah kenapa
“Benarkah, benarkah yang kau katakan tadi,”? Tanyanya tiba-tiba. Kuanggukkan kepala, begitu berat, aliran darah yang kacau.
“Kenapa kau mencintaiku, apa kau melihatku sebagai perempuan yang cantik”?
“Apa kau begitu tertarik memiliki tubuh ini sepenuhnya,”?. Aku lemah. Pertanyaan yan tak bisa kujawab secara sempurna. Diam menjadi begitu menyiksa, kulempar pandangan dari tatapannya.
“Kenapa melempar pandangan itu, bukankah itu adalah bagian pengharapanmu tentangku. Bukankah kejujuran bagimu adalah dongeng dari mata, nyanyian dari telinga, nikmat dari lidah dan perabaan. Apa kekaguman hanya begitu sederhana, padahal aku telah mengagumimu dengan pencarian yang dalam, perasaan cinta yang tak pernah kubicarakan. Kekaguman yang selalu ada dan terpendam. Kuungkapkan lewat kebersamaan yang membuatku berbicara seperti ini. Karena ungkapan cinta hanya akan menipuku dan membohongimu. Tak mengertikah kau,”?.
Dipandanginya kebodohanku. Dilumatnya kepicikan ini menjadi serpih, lalu hanyut dalam makna dari kata-katanya yang membius. Setiap nafas lembutnya menjadi tekanan, menyesakkan dada. Dipungutnya satu dua daun kering, jatuh dihembus angin gunung yang dingin. Sejenak Oliva diam. Hening. Seperti memberiku kesempatan untuk menciptakan horison, imajinasi bahwa dirinya hanya sebuah siluet serupa senja. Sebentar saja menipuku dengan pesonanya, lalu hilang begitu saja. Aku tlah kedinginan, menggigil parah karena suasana yang kucipta sendiri.
“Jika keakraban ini tak punya makna apapun, kau boleh bicara cinta,” katanya memecah kebekuan ini.
“Kau boleh menikmati setiap jengkal tubuh yang kau kagumi ini, nikmati sepuasmu, aku tak akan menolaknya, aku tak akan mencegahmu,”
“Mmmhhmm...” Oliva bergumam.
“Tapi jika kedekatan kita telah merasuk dalam jiwa, menerbangkan kemesraan ini menyusuri rentang masa tak bertepi, maka biarkan kekaguman itu menjadi abadi, kelak kita akan menikmatinya di tengah-tengah telaga tuhan,” ia berkata pelan. Menyerupai bisikan yang menjelajah setiap rongga tubuhku. Terpaku aku dibuatnya. Kekalahan yang malah membuatku merasa segalanya indah. Oliva mengajarkannya dengan sempurna.
*****

Setelah di bukit itu, Oliva jarang terlihat. Seakan menghindariku pelan-pelan. Beberapa kali hp-nya kuhubungi, sinyal menunjukkan hp-nya mati. Di fakultas aku juga tak menemukannya, semua menggeleng perihal Oliva. Sampai suatu saat, ketika kerinduanku meremas ketegaran yang selama ini kubanggakan. Seseorang menemuiku, ia mengaku disuruh Oliva. Dua lembar kertas dengan samar-samar tulisan kulihat dari luar.
“Dari Oliva,” kata gadis itu
“Sementara kau membaca surat itu, disuruhnya aku menunggumu sampai selesai, bacalah mulai sekarang, jangan biarkan waktu yang tak seberapa panjang ini tersia-siakan,” dingin gadis itu bicara. Gaya bicaranya mirip Oliva. Pelan tapi membius.
Kubuka lembar pertama kertas lusuh itu. Tulisan rapi, tulisan Oliva. Tinta biru dan bekas air di beberapa bagiannya. Oliva, jika diperbolehkan, aku tak ingin membacanya. Ada gemuruh di sini, kerinduan tentangmu yang meracuniku atau membimbingku, entahlah

Hari ketujuh bulan pertama, lembar pertama.....
Aku coba menanggalkan keinginan-keinginan tak perlu. Menepikan setiap bias keakraban dan kedekatan yang membuatmu juga membuatku saling terbius dalam kekaguman menipu. Semenjaknya perasaan itu perlahan datang padaku, aku tlah mencabik-cabik jiwaku juga jiwamu.
Dengan bahasa keakraban itu, biarlah kuungkapkan lewat tulisan ini. Keindahan, keranuman tubuh ini akan kubawa menjauh, meninggalkan kebutaanmu tentangku. Biar kau, bagian terindah pengisi dunia fanaku, tak lagi dikelabui oleh orang yang kau cintai. Setiap nafasmu, rasakan nafasku, nikmati di suatu ruang tak berbatas. Kehidupan ini bagiku, bagimu adalah kematian tentunya. Seperti dalam perbincangan-perbincangan panjang kita. Meski kita tak pernah bisa menghilangkan perasaan-perasaan itu satu sama lain.
Lalu, semenjak di perbukitan tepi kota itu. Ahh.. aku sengaja menghindarimu. Aku yakin kau pasti mencariku, kebingungan di sebuah kerinduan, kau tahu kenapa....karena kau tlah buta. Kau tak pernah memahami bahwa aku adalah bangkai sama seperti kau, jika roh ini terbang jauh, tubuh yang kau katakan indah ini akan membusuk. Terbaring dalam timbunan tanah berbelatung.
Sudahlah Hanz, biarkan aku mencari kebenaran itu tanpa diikuti pesona-pesona dunia. Ibuku telah menjodohkanku dengan lelaki pilihannya. Aku menerimanya. Senyampang aku menuju kehidupan dan samudera tak berbatas itu, biar kupersembahkan keindahan pada perempuan yang melahirkanku.
Kuserahkan pada lelaki itu, jiwa dan raga ini, sisi dunia yang pernah kau kagumi. Jika kau ingin marah, sedih atau putus asa, lepaskan semua perasaan itu. Hingga di sana, dalam jiwamu tak ada lagi yang tersisa, selain kekosongan dan dunia maya berisi jutaan bintang dan galaksi yang tak bisa dijamah.

Hari ketujuh bulan pertama, lembar kedua....
Kau ingat, hari itu adalah ulang tahunmu, sekaligus waktu dimana kita dipertemukan oleh sahabatku. Dalam pestanya yang memusingkan kepala. Jujur, saat itu aku berpikir bahwa kau orang yang seide denganku, mampu menjawab setiap misteri-misteri yang bergumul di kepalaku. Dan aku tak salah, meski aku juga tak terlalu benar menerka. Malam-malam kebersamaan kita buktinya. Keakraban yang telah membuat kita saling mengisi, berbagi, dan berujung pada kekaguman yang tak seharusnya.
Setiap marahmu mampu kuredam, kuimbangi dengan meluruskan jalan pikiranmu. Sampai saat ini, kau juga tak mampu memahami sedalam apa perasaanku, melebihi yang pernah kau katakan, melampaui apa yang pernah kau bayangkan.
Hari ketujuh bulan pertama, bagian lembar dua....
Kutitipkan tulisan ini pada sahabatku, sekaligus adikku, untuk menyerahkannya padamu, hanz. Dia seorang gadis seperti aku, selalu meredam setiap penipuan-penipuan indera. Hanya saja ia memilih jalan berbeda, bukan jalan kematian muda, jika kau ingin tahu, tanyakanlah sendiri. Cukup cantik bukan!. Tunjukkan padanya keakraban, seperti keakraban kita. Isi hatimu dengan kekaguman padanya untuk menggantikan pengharapanmu buatku. Ia masih di dekatmu bukan, aku memang menyuruhnya begitu. Hanz, sepertinya aku harus menyudahi tulisan ini. Jika terlalu panjang, hanya akan membuat ketegaranmu terbenam di dalamnya.
Hanz, maaf aku lupa. Seusai membaca tulisan ini, kau harus menghapus kekagumanmu padaku. Jangan pernah mencari, karena itu hanya kesia-siaan. Hari ini mungkin aku telah menemukan kebebasan, bersandar di tepi telaga tuhan. Keabadian yang dulu sering kita perbincangkan. Oh..ya.. nama gadis di dekatmu adalah Desta.....
Maaf buat semua, segala keindahan dan kekaguman yang selalu dibohongi oleh mata atau jasad fana...

Oliva Dewi Nirmala
Di tepi telaga tuhan

Sampai di sini saja Oliva, benarkah kata-katamu?. Kulihat gadis di sampingku. Kegalauan tetap saja ada di sana. Keresahan seperti yang dimiliki Oliva, kebekuan yang menekan setiap aliran dan degup jantung.
“Kau namanya Desta, Oliva memberitahuku di tulisan ini,” kataku. Ia hanya mengangguk pelan.
“Kau tau, dimana oliva,”?.
“Ia telah jauh mengembara, di ruang-ruang tanpa batas, di tepi telaga tuhan,” katanya datar. Kuselami sorot mata itu. Menghunjam ulu hati, seperti tatapan-tatapan Oliva.
“Dua hari lalu, Oliva telah memilih jalannya,” katanya lagi
“Kematiannya di sebuah perbukitan, di kota kelahirannya, kelahiranku juga. Setelah pernikahan memaksa itu, dijalaninya,” lirih suara Desta bagai petuah panjang, menyadarkanku yang tak pernah tahu sedalam apa perasaan oliva.
“Dia kakakku yang terbaik....

1 komentar:

dandalion mengatakan...

walaupun masih ada pertanyaan yang mengganjal,tp q suka ma kata-kata "kekaguman hanya kebohongan belaka"

alam menjadi begitu bermakna ketika kita memberinya makna

alam menjadi begitu bermakna ketika kita memberinya makna
tu eres mi vida

bunga keabadian

bunga keabadian
jika keharusan menemuimu adalah ironi, maka biar kulukis kau serupa mawar...indah tapi fana..