Rabu, 02 September 2009


Amarah menjamah darah
Engkau diam, murung dikurung tempurung
Separah apa aku berlari
Sama menghinakan diri sebelum menemukan nadi
Engkau menolak kata,
mencekam menerka suasana
Lupa akan malu, padahal terasa sendu
Darinya, aku bersembunyi, hinggap di ujung duri
dan menemukan makna, menyudahi resah
berbaris-baris
biarkan tangis seperti gerimis

alam menjadi begitu bermakna ketika kita memberinya makna

alam menjadi begitu bermakna ketika kita memberinya makna
tu eres mi vida

bunga keabadian

bunga keabadian
jika keharusan menemuimu adalah ironi, maka biar kulukis kau serupa mawar...indah tapi fana..